Kamis, 28 September 2023

Desain model pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikiran kritis dalam bidang sains

 Bismillahirrahmanirrahim 

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabaraktu...

Hallo gaess  disini saya akan mereview kembali  mata kuliah Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains dengan pertemuan ke lima yaitu tentang Desain model pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikiran kritis dalam bidang sains...

Kita ketahui dulu ni apasih yang dimaksuf dari media pembelajaran kolaboratif ???

Nah jadi teman teman pembelajaran kolaboratif ini adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada sikap atau perilaku bergotong royong  dalam bekerja, tentu saja yang Namanya gotong royong dikerjakan oleh dua orang atau lebih dalam satu kelompok. 

Kemudian apa saja ni contoh dari pembelajaran kolaboratif tersebut?


 Kemudian apa saja ni strategi pembelajaran kolaboratif berbasis keterampilan berpikir kritis dalam bidang sains

1. Jigsaw: Setiap anggota kelompok menerima tugas atau informasi yang berbeda mengenai topik tertentu dalam sains. Mereka saling bertukar informasi dan berinteraksi untuk memecahkan masalah atau memahami konsep secara lebih menyeluruh.

2. Numbered Heads Together: Setiap anggota kelompok diberikan nomor. Guru memberikan pertanyaan atau masalah kepada kelompok, dan semua anggota kelompok harus berdiskusi secara kolektif untuk mencari jawaban yang benar. Setelah setiap diskusi selesai, anggota kelompok dengan nomor yang ditentukan harus mempresentasikan jawaban kelompok mereka.

3. Think-Pair-Share: Setiap anggota kelompok berpikir secara individu tentang pertanyaan, masalah, atau topik yang diberikan. Mereka kemudian berpasangan dengan anggota kelompok lain untuk berbagi pemikiran dan ide mereka. Setelah itu, mereka berbagi ide mereka kepada kelompok secara keseluruhan.

4. Round Robin: Setiap anggota kelompok bergantian memberikan kontribusinya terhadap topik yang sedang dibahas. Setelah setiap kontribusi, anggota kelompok lain dapat menanggapi atau memberikan ide mereka sendiri. Diskusi akan berlanjut sampai semua anggota kelompok telah memberikan kontribusi.

5. Penceritaan terbalik: Anggota kelompok diminta untuk mempresentasikan informasi atau konsep dalam sains dengan urutan terbalik. Ini memerlukan mereka untuk memahami konsep dengan baik dan mengorganisir informasi secara efektif.

Metode kolaboratif dibangun dengan menggunakan beberapa asumsi tentang cara membangun proses belajar bermakna pada diri siswa (Smith & MacGregor, 1992). Asumsi tersebut antara lain:

a. Belajar aktif dan konstruktif

    Pembelajaran bermakna dapat terjadi jika siswa terlibat aktif. Secara aktif siswa mempelajari bahan pelajaran baik yang berbentuk cetak ataupun yang tersedia dalam jaringan internet. Kemudian siswa mengintegrasikan materi baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Pada akhirnya, Siswa membangun makna baru yang terkait dengan materi pelajaran dan perkembangan konteks

b. Belajar berkembang sesuai dengan konteks:

    Kegiatan pembelajaran sebaiknya dikaitkan dengan konteks yang berkembang dan tentu saja sudah dikenal oleh siswa. Kaitan ini dapat menstimulus motivasi belajar siswa. Stimulus yang terbangun diharapkan dapat siswa tertarik untuk terlibat pada proses pembelajaran secara aktif dan tuntas.

c. Kompleksitas latar belakang siswa

    Perbedaan latar belakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi siswa pasti terjadi. Siswa dibiasakan untuk menghormati dan menghargai setiap perbedaan yang terjadi, sehingga belajar secara bergotong royng dapat berlangsung dengan baik. Bahkan, perbedaan keahlian sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu hasil belajar

d. Belajar merupakan proses sosial

    Proses belajar merupakan proses interaksi sosial pada proses pembelajaran yang dibangun pada pola kolaboratif, siswa dibiasakan untuk membangun makna yang diterima dengan cara bergotong royong atau bersama.

Dalam dunia bisnis maupun pendidikan, tentu akan selalu muncul masalah baru yang perlu diselesaikan dengan cara yang inibatif. Bila masalah hanya ditanggung oleh seorang diri, dapat dipastikan bahwa solusi yang dihasilkannya tidak akan bida secara optimal, dan bahkan dapat saja keliru. Sebabnya sangat disarankan untuk menyelesaikan masalah bersama teman lainnya atau problem solving.

Manfaat dari pembelajaran kolaboratif yaitu 

1. Prestasi belajar yang lebih tinggi
2. Pemahaman yang lebih mendalam
3. Belajar yang lebih menyenangkan
4. Mengembangkan keterampilan kepemimpinan
5. Meningkatkan sikap positif
6. Meningkatkan harga diri
7. Belajar secara inklusif
8. Merasa saling memiliki
9. Mengembangkan keterampilan masa depan

Baiklah itulah hasil dari review tentang desain pembelajaran kolaboratif keterampilan berpikiran kritis dalam bidang sains.  

Semoga bermanfaat... sekian terimakasih

Wasslamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aplikasi Model Pembelajaran Sains Berbasis Disrupsi Inovasi dan Analisis Praktis Kelemahan Model-Model Pembelajaran: Kooperatif, Kuantum dan Kolaboratif

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu. Hello guys👋🏻 kembali lagi dengan saya Yuyun Nenni Sara. Saya ingin membagikan tugas UAS ma...